Rabu, 24 Oktober 2018

Biografi Abuya Abdul Karim


Riwayat Abuya Abdul Karim
KH. TB. Abdul Karim adalah salah satu ulama Banten yang cukup terkenal di Kabupaten Pandeglang. Selain dikenal sebagai ulama yang aktif di bidang kajian dan pengembangan keislaman beliau juga dikenal sebagai tokoh yang cukup berpengaruh dalam bidang politik. KH. TB. Abdul Karim atau yang akrab disapa Abuya atau Mama, lahir pada tahun 1914 di Kampung Rocek (sekarang Desa Bojong Huni), Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Ayahnya bernama KH. TB. Ismail yang  berasal dari Kampung Leuwi Kondang, Desa Kadubumbang,  Cimanuk,  dan ibunya bernama Siti Sarah yang berasal dari Pasir Angin, Pandeglang.
Menurut beberapa informasi, dari garis ayah silsilah Abuya Abdul Karim sampai kepada Syech Syarif Hidayatullah, maka otomatis sampai pula kepada Rasulullah Saw. Sedangkan dari pihak ibu silsilahnya sampai kepada Sayyidina Hamzah, sahabat Nabi.
Abuya Abdul Karim terlahir dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya juga merupakan seorang ulama. Selama hidupnya Abuya Abdul Karim pernah menjalani pernikahan sebanyak tiga kali. pernikahan pertamanya dengan seorang perempuan bernama Siti pada tahun 1933, pernikahan yang pertama ini hanya bertahan selama satu tahun karena Abuya Abdul Karim masih memiliki keinginan besar untuk belajar ilmu agama. Pernikahan dengan istri yang pertama tidak dikarunia putra.
Kemudian pada tahun 1943, setelah menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren Abuya Abdul Karim menikahi seorang perempuan yang berasal dari Kp. Bengkung bernama Siti Tarwiyah atau yang dikenal dengan Ibu Iyot. Dalam pernikahannya yang kedua ini dikaruniai dua orang anak, Ratu Nawiroh dan Tb. Acep Saefulloh. sampai kemudian istri yang kedua ini meninggal dunia. 
Setelah itu pada tahun 1949 Abuya Abdul Karim menikahi seorang gadis yang berasal dari Kp. Pabrik bernama Ratu Julaeha binti Tb. Halimi. Pada saat itu Ibu Ratu Julaeha masih berusia 14 tahun. Dari pernikahannya dengan istri ketiga ini dikaruniai tujuh orang anak;
1.      Ratu Azzah
2.      Ratu Empin Arfiyah (alm)
3.      Ratu Ifah Afifah
4.      Tubagus Badren
5.      Tubagus AE. Neirendan
6.      Ratu Tuti Alawiyah
7.      Ratu ida (alm)
Kedua putranyalah yang saat ini meneruskan jejak langkah Abuya Abdul Karim dalam bidang pendidikan Islam yakni Tubagus Badren dan Tubagus AE. Neirendan.

Riwayat Pendidikan
Masa pendidikan Abuya Abdul Karim sebagian besar dilakukan di pondok pesantren. Saat usianya menginjak tujuh tahun beliau mondok di salah satu pondok pesantren di Rocek selama tiga tahun yakni dari tahun 1921 sampai tahun 1924. Kemudian dilanjut ke pondok pesantren di Plered selama lima tahun yakni dari tahun 1924 sampai tahun 1929. Kemudian di pondok pesantren di Ciluwer, Bogor selama empat tahun (1930-1934), pada saat mondok di Bogor di tahun yang ketiga beliau menikah. Namun, pernikahannya hanya bertahan selama satu tahan saja karena beliau masih ingin melanjutkan belajar di pondok pesantren. Setelah itu Abuya Abdul Karim melanjutkan ke  Gentur, Jambudipa di pondok pesantren KH. Ahmad Satibi selama delapan tahun (1934-1942), dan yang terakhir beliau mondok di Pondok pesantren  Abuya Abdul Halim di Kadu Peusing pada tahun 1942-1943.
Keilmuan Abuya Abdul Karim sudah diakui oleh masyarakat di sekitarnya. Abuya Abdul Karim ahli dalam berbagai bidang ilmu agama. Baik fiqih, hadis, tauhid, balagoh, mantiq dan lain sebagainya. Tapi abuya lebih dikenal dengan keahliannya dalam bidang ilmu tafsir. Selain itu, menurut salah satu santrinya Abuya Abdul Karim juga  menguasai ilmu falaq. Perhitungannya dalam  menentukan idul fitri atau idul adha didasarkan pada dua hal yaitu rukyah dan istikmal. Menurutnya jika terlihat bulan maka itu rukyah berarti tepatlah hari raya itu, sedangkan jika tidak terlihat bulan maka itu istikmal.
Abuya Abdul Karim dikabarkan bersahabat dekat dengan Buya HAMKA. Dahulu kedua karib ini satu sama lain saling mengunjungi untuk saling berbagi ilmu dan berbagi nasihat. Abuya Abdul Karim juga menjadi tempat bagi masyarakat untuk meminta nasihat.

Aktivitas-aktivitas Abuya Abdul Karim
Selama hidupnya Abuya Abdul Karim banyak mengabdikan diri untuk umat. Di antaranya adalah mendidik para santri di pesantren dan menjadi pengajar di beberapa majlis ta’lim di Pandeglang. Metode pengajaran yang abuya gunakan adalah metode ceramah sambil membacakan kitab.
Berikut ini beberapa aktivitas Abuya Abdul Karim dalam pendidikan Islam di Pandeglang:
1.      Mendirikan pondok pesantren pertama di Bengkung pada tahun 1948 pada saat menikah dengan istri kedua. Saat ini pondok pesantren tersebut pengajarannya dilanjutkan oleh keturunannya dari istri kedua.
2.      Menjadi pengurus di Mathla’ul Anwar Menes pada tahun 1957-1960, lebih tepatnya sebagai penasihat dalam majlis fatwa.
3.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim di Cihideung pada tahun 1961-1963
4.      Mendirikan lembaga pendidikan Madrasah Mathla’ul Huda di Kp. Pabrik sekaligus menjadi pengajarnya pada tahun 1962.
5.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim khusus para kyai setiap hari kamis pagi dan pengajian untuk umum setiap hari sabtu—yang sampai sekarang masih berlanjut, pada tahun 1962.
6.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim di Kadukacang, Kananga, dan Labuan pada tahun 1970-1980.
7.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim di Kadulisung dan di Cidangiang pada tahun 1980-1987.
8.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim di Nyimas Ropoh pada tahun 1989-1996.

Selain aktif dalam bidang kajian dan pengembangan Islam, abuya juga aktif dalam melakukan perlawanan terhadap para penjajah ketika Agresi Militer Belanda yang kedua bersama rekan-rekannya, salah satunya bersama Ghozali. Pada saat itu, abuya berperan sebagai ketua dalam MII (Majelis Ishlah Indonesia) yang merupakan salah satu organisasi yang mendukung tentara sabilillah dalam rangka perlawanan melawan agresi militer Belanda sekitar tahun 1949 bersama KH. Abdul Halim.
Banten merupakan salah satu daerah yang penduduknya hampir seluruhnya beragama Islam. Sehingga pengaruh kyai dan ulama sangat besar sekali. Revolusi di Banten sebagian besar dipimpin oleh para kyai dan ulama. Sehingga jabatan dalam pemerintahan dari tingkat lurah sampai tingkat bupati dipangku oleh para kyai dan ulama. Abuya Abdul Karim dalam rangka mendukung pemerintahan pasca kemerdekaan diangkat menjadi lurah Desa Kupahandap-Pandeglang oleh Residen Banten KH. Ahmad Khotib sekitar tahun 1946-1949.
Aktivitas Abuya Abdul Karim sangat aktif mendukung Masyumi, di mana ia menjabat sebagai penasehat yang menghantarkan ia menjadi anggota konstituante sekitar tahun 1964. Bersama rekan-rekannya di Pandeglang yang tergabung di Masyumi dan yang bukan Masyumi mereka menentang NASAKOM sampai terjadinya peristiwa G30SPKI. Kemudian pada masa Orde Baru setelah Mayumi bubar Abuya Abdul Karim bergabung dengan PARMUSI sebagai penasehat hingga pusinya partai-partai Islam di Indonesia.

Keistimewaan Abuya Abdul Karim
Abuya Abdul Karim adalah sosok ulama yang sederhana, tawadhu, qonaah, dan moderat, tidak memihak pada golongan atau komunitas tertentu sekalipun berbeda pandangan satu sama lain. Ia juga dikenal sebagai ulama yang selalu mengedepankan akhlakul karimah dan sangat bijak menghadapi semua problematika yang ada di masayarakat. Terutama terkait dengan perbedaan-perbedaan paham yang berkembang di baik di tengah  masyrakat maupun di tengah kalangan ulama sejawat. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika ia disebut sebagai ulama moderat pemersatu umat.  
Pada tahu  1992 abuya pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci bersama istrinya. Ada satu cerita ketika hendak berangkat wukuf di Arafah, semua rombongan termasuk ketua rombongan sibuk mencari abuya yang tiba-tiba menghilang. mencari di maktab abuya tidak ditemukan. Sampai akhirnya abuya ditemukan sedang duduk di Arafah, kondisi saat itu abuya sudah menggunakan kursi roda. Ketika ditanyakan abuya mengatakan bahwa dia tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa langsung ada di Arafah, sebelumnya ia melihat ada sosok hitam tinggi yang mengangkatnya dan mengantarkannya ke Arafah. Subhanallah.
Pernah pula suatu ketika beberapa tahun setelah abuya wafat ada salah seorang yang datang ke rumah abuya dan mengaku sebagai santrinya,  santri tersebut bercerita bahwa ketika ia menunaikan ibadah haji ia bertemu dengan abuya yang kemudia menyuruhnya untuk bersilaturahim ke rumahnya di Pandeglang seraya memberikan alamat lengkapnya. Padahal pada waktu itu abuya sudah wafat. Mungkin abuya mengingatkan pada santri tersebut untuk tidak memutus silaturahim.
Abuya Abdul Karim wafat pada hari Jum’at tanggal 29 Ramadhan 1417 H bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1997 dalam usia 83 tahun dan dimakamkan di depan rumahnya yang kini di areal tersebut dibangun sebuah mushola. Sampai saat ini makam abuya banyak diziarahi oleh orang-orang.
Kepergian abuya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga juga bagi umat yang merasa bahwa abuya adalah sosok ulama yang memiliki kepribadian yang luar biasa. Banyak nasihat abuya yang sampai saat ini masih teringat, di antaranya adalah; Bergaulah dengan siapapun, ambil manfaat dan yang baik-baiknya saja. Carilah ilmu dimanapun pada siapapun. Kalau berbicara harus memperhatikan perasaan orang lain. Dan Ilmu tidak akan manfaat jika tidak disertai dengan akhlak dan sopan santun.

Sumber
1.      Biografi KH. TB. Abdul Karim dalam rangka peringatan haul yang kelima
2.      Wawancara dengan Hj. Ratu Julaeha, Dalem Balar-Pandeglang, 16 Oktober 2015
3.      Wawancara dengan KH. Uyung, Kadu Kaweng-Pandeglang, 17 Oktober
4.      Wawancara dengan Ust, Badren, Dalem Balar-Pandeglang, 17 Oktober 2015


Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Pusat Litbang Kementrian Agama tahun dalam Ensiklopedia Ulama-Ulama Banten tahun 2016

Senin, 22 Oktober 2018

Menyongsong Museum Milenial


Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar nama “museum”? Sepi, jenuh, kuno, fosil, dan masa lalu?  Ya, itulah kesan yang selalu disematkan pada museum. Namun, saat ini kesan seperti itu rasanya sudah tak lagi pantas untuk disematkan pada museum.  Karena museum masa kini sudah mulai berbenah untuk menyongsong museum milenial. Museum yang tak hanya  milik generasi masa lalu, tapi juga milik generasi masa kini dan generasi di masa mendatang. Milenial atau yang  dikenal dengan generasi Y, menurut Wikipedia adalah kelompok demografi setelah generasi X. Generasi ini lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000. Lalu, kenapa saat ini ramai sekali orang memperbincangkan tentang generasi milenial? apa hubungannya generasi milenial dengan museum?

Setiap tanggal 12 Oktober diperingati sebagai Hari Museum Indonesia. Hari Museum Indonesia pada tahun 2018 ini mengusung tema “Museum Kebanggaan Milenial”. Dengan tema yang kekinian ini para pengelola museum mencoba mendekatkan diri pada generasi milenial  atau generasi muda masa kini yang akrab dengan kemajuan teknologi dan informasi. Karena generasi milenial ini bisa menjadi salah satu target utama museum untuk menyongsong museum yang bisa menjadi kebanggaan masyarakat. 

Museum menurut Intenasional Council of Museum (ICOM) disebut sebagai sebuah lembaga nirlaba yang bersifat permanen yang melayani masyarakat, terbuka untuk umum, bertugas untuk mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan warisan sejarah kemanusiaan yang berwujud benda dan tak benda beserta lingkungannya untuk tujuan pendidikan, penelitiaan, dan rekreasi. 

 Berperan sebagai sarana edukasi dan rekreasi bagi masyarakat, museum dituntut untuk terus berbenah untuk mewujudkan museum yang kekinian dan museum yang menarik bagi setiap generasi, terutama generasi milenial yang bisa menjadi potential market dalam berbagai sektor. Generasi milenial ini memiliki minat untuk melakukan eksplorasi dan travelling, cerdas, memiliki jaringan, dan juga aktif menggunakan media sosial. Oleh karena itu, ketertarikan generasi milenial terhadap museum bisa menjadi peluang besar untuk perkembangan museum. Dalam hal ini, pengelola museum harus mampu beradaptasi dengan situasi terkini, terlebih di era keterbukaan informasi dan teknologi digital mapun media sosial, sehingga dapat menarik minat generasi milenial untuk berkunjung ke museum. 

Sering munculnya anggapan mengenai museum sebagai tempat yang menjenuhkan,  sepi dan sebagainya juga menjadi tantangan bagi pengelola museum bagaimana menjadikan museum sebagai tempat yang menyenangkan untuk semua kalangan, baik untuk orang tua, pelajar, maupun anak-anak. Untuk menjawab semua tantangan tersebut, Museum Negeri Provinsi Banten (Museum Banten) sebagai museum kebanggaan masyarakat Banten saat ini terus berupaya untuk melakukan gebrakan-gebrakan baru yang inovatif dan kekinian. Dengan mengedepankan konsep museum digital—dengan tidak meninggalkan esensinya sebagai tempat menyimpan koleksi yang memiliki nilai sejarah—Museum Banten memiliki harapan bahwa peran museum sebagai sarana edukasi dan rekreasi bagi masyarakat bisa terwujud. Masyarakat tertarik untuk berkunjung ke museum, pengetahuan bertambah, memperoleh hiburan, dan tentu saja bisa berbagi hasil jepretan kamera di jejaring sosial dengan latar Museum Banten. 

Upaya yang dilakukan Museum Banten untuk mewujudkan museum yang bisa menjadi kebanggan milenial adalah dengan menampilkan museum yang bisa diterima oleh banyak kalangan, khususnya adalah oleh kalangan generasi milenial. Di antaranya adalah dengan menyajikan informasi seputar koleksi dalam bentuk media digital yang menarik berupa hologram interaktif dan virtual reality. Selain itu, ada banyak koleksi yang ditampilkan di Museum Banten yang mewakili setiap kota dan kabupaten yang ada di Provinsi Banten. Tak hanya itu, Museum Banten juga memiliki ruang pamer yang informatif yang tentunya didukung dengan teknologi multimedia yang menarik, seperti Ruang Siapa Orang Banten, Ruang Religi, dan Kids Corner yang masih dalam proses pembuatan. Selain itu ditampilkan juga Pameran Tematik atau Temporer seperti Pameran Aku dan Kenangan, Banten Negeri Maritim (on proses), dan Kriya Baduy. Apa yang dipamerkan di Museum Banten tak hanya bisa menambah pengetahuan dan menghibur pengunjung, tapi juga memiliki satu nilai plus yang selalu menjadi incaran kaum milenial, yaitu memiliki spot untuk berfoto yang instagramable. Inilah cita-cita yang sesungguhnya, menyongsong museum milenial. 

Dalam rangka memeriahkan Hari Museum Indonesia tahun 2018, Museum Banten menyelenggarakan acara yang menarik, yaitu senam bersama, tour the museum, dialog interaktif, launching film dokumenter dan doorprize. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sekali lagi, upaya ini dilakukan oleh Museum Banten untuk mewujudkan museum masa depan, museum yang menjadi kebanggaan milenial. Dengan tag line “Ke Museum Yuk!” seluruh museum di Indonesia mengajak masyarakat khususnya generasi milenial untuk mencintai museum, saat ini dan nanti.  

Sejatinya, bernostalgia, menembus ruang dan waktu, dan mengingat setiap hal baik yang terjadi di masa lalu adalah hal yang menarik.
Salam Museum
Salam Membumi dari Ujung Barat Pulau Jawa.
Museum di hatiku
Museum di hati kita.

Artikel ini pernah diterbitkan di Kabar Banten pada Tanggal 15 Oktober 2018. 




Mimpi Naik Pesawat


Tak ada kata lain yang paling indah selain ucapan “Alhamdulillah” sebagai bentuk rasa syukurku atas nikmat-nikmat baik yang Allah karuniakan kepadaku. Allah Maha Baik, di bulan Oktober tahun 2017 lalu aku meminta agar diberikan kesempatan untuk bisa merasakan naik pesawat (gratis), saat itu aku memintanya sembari memandang pesawat terbang di atas langit dari balik kaca jendela mobil Bus Arimbi yang aku tumpangi dari Bogor menuju Serang. Dua pesawat terbang melintas di udara, mimpi-mimpiku pun bertebaran menanti untuk segera diwujudkan. Saat itu aku meminta dengan dua tangan yang menempel di kaca jendela bus. Entahlah, penumpang yang duduk di sampingku sepertinya turut mendengarkan atau bahkan turut meng-aminkan. 

Tentang mimpi, yang aku tahu adalah setiap orang berhak untuk memiliki mimpi setinggi apapun. Bermimpi itu mudah, namun menjaga, merawat dan mewujudkannnya itulah yang berat. Perlu kekuatan hati dan tekad. Berkat kesabaranku merawat mimpi-mimpi itu, mimpi-mimpi yang dilantunkan lewat do’a di balik kaca jendela bus itu terwujud setelah dua minggu kemudian. 

Aku berkesempatan terbang di udara menggunakan pesawat dan tentu saja itu gratis. Tak hanya ongkos pesawatnya yang gratis, tapi juga biaya keseharian selama di tempat yang akan ditujupun gratis alias ditanggung pihak pemberi kesempatan. Naik pesawat, terbang di udara melintasi awan-awan, melihat lautan dan daratan dari udara, semuanya aku rasakan dengan penuh haru dan penuh rasa syukur. Aku menangis untuk kesempatan yang baik itu. Dua bulan kemudian, aku pulang dengan menumpangi pesawat lagi. Tentu saja rasanya masih tetap spesial seperti kali pertama. 

Sembilan bulan kemudian, aku mendapatkan kesempatan untuk naik pesawat gratis (lagi). Kali ini dalam rangka menjalankan tugas negara, mengenalkan Seni Kriya Baduy di Surabaya. Bagi sebagian orang mimpi ini biasa saja. Karena bagi orang yang mampu, naik pesawat itu adalah hal yang biasa dan mudah untuk dilakukan. Tapi, bagiku ini adalah mimpi besar yang betapa bahagianya aku ketika itu terwujud.


Tentang mimpi-mimpiku, akan kubuat semakin membumi, agar semesta memberkati.


Serang, 11 Oktober 2018