Rabu, 24 Oktober 2018

Biografi K.H. Otong Nawawi Ciandur


Sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer pernah menulis “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selagi dia tidak menulis dia akan hilang dalam sejarah. Menulis adalah mengabadikan sejarah”. KH. Otong Nawawi atau biasa dipanggil Abuya Otong adalah salah satu ulama yang memiliki kesadaran untuk mengabadikan sejarah lewat tulisan. Riwayat hidupnya ia tulis dalam sebuah buku harian yang sampai saat ini masih tersimpan dengan baik yang kini bisa digunakan sebagai salah satu bukti sejarah. 

Riwayat Keluarga
Abuya Otong Lahir di Manunjang, Saketi, Pandeglang pada hari Jum’at 7 Muharram tahun 1344 H/1925 M. Abuya Otong adalah putra keempat dari empat bersaudara, ia anak lelaki satu-satunya. Saudara-saudaranya bernama (1)  Ibu Enong, (2) Ibu Eneng, dan (3) Ibu Enjen. Ayahnya bernama KH. Aslah yang merupakan salah satu ulama yang patut diperhitungkan, bahkan disebutkan pernah menetap cukup lama di Mekkah untuk mengajar di pengajian. Ibunya bernama Hj. Siti Khodijah bin H. Sanaka, dari Manunjang, Saketi. Dari garis ayah Abuya Otong memiliki hubungan geneologis dengan Syech Daud Cigondang, berikut silsilahnya:
1.      Syech Daud Cigondang
2.      Syech Ajib Sangkan Kananga
3.      Baedhowi
4.      Ali Alan
5.      H. Ashob
6.      H. Wasijan
7.      H. Aslah
8.      KH. Otong Nawawi
Sedangkan dari garis ibu, abuya memiliki hubungan geneologis dengan Syech Masajan Wiralaksana yang merupakan salah satu prajurit Kesultanan Banten yang menetap di Ciandur setelah mengalahkan seorang pandai besi dari Ciandur.
Sejak kecil abuya sudah ditinggalkan oleh orang tuanya, sehingga ia banyak menghabiskan masa kecilnya dengan tinggal bersama saudara perempuannya di Ciandur. Sebelum wafat, ayahnya, H. Aslah menitipkan amanah pada saudaranya KH. Ghofur, amanah itu berupa buku yang berisi suatu amalan. Dalam amanahnya, KH. Aslah mengatakan agar buku tersebut diberikan pada anaknya yaitu KH. Otong Nawawi, jika ia sudah besar dan benar-benar sudah bisa mengaji. Singkat cerita, ketika usia Abuya Otong mencapai belasan tahun KH. Ghofur menyampaikan amanah tersebut padanya. Setelah itu ia pergi belajar di beberapa pondok pesantren.
Sepulang dari pesantren, abuya kembali menemui pamannya untuk mengambil buku yang diamanahkan oleh ayahnya. Setelah dibuka ternyata buku tersebut bertuliskan sebuah amalan yang dikatakan di dalamnya jika ingin hidup bahagia dunia dan akhirat harus mengamalkan sholat hajat empat roka’at dan dalam setiap roka’atnya setelah membaca fatihah harus membaca Surat Al Ikhlas sesuai dengan urutan roka’at masing-masing. Amalan tersebut di kemudian hari terus diwariskan kepada anak-cucunya hingga saat ini.
Diketahui bahwa abuya memiliki istri bernama dengan Ibu Hj. Encuk Hasanah, putri seorang lurah dari Bulakan yang bernama Lurah Hasan.[1]Dari pernikahannya ini abuya dikaruniai sepuluh orang anak, empat orang putra dan enam orang putri, di antaranya adalah sebagai berikut;(1) Hj. Enjah fauziah, (2) Hj. Endoh Roudhoh, (3) H. Ambeng Humaedi, (4) Hj. Tami, (5) Hj. Enok Faozah, (6) Hj. Aang Ahdori, (7) Hj. Euis muslihah, (8) H. Ahmad Ambari, (9) Hj. Ade Buraedah, dan (10) H. Abdul faqih Fuadi. Setelah Ibu Hj. Encuk Hasanah meninggal[2], abuya menikah kembali dengan Umi Eneng dari Sumur, Pandeglang. 

Riwayat pendidikan
Setiap manusia dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Kecerdasan seseorang berkembang karena banyaknya faktor yang mempengaruhi. Abuya Otong merupakan seorang anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata rekan-rekan seperjuangannya. Semasa kecil ia mendapatkan pendidikan formal di SR, karena ia memiliki nilai yang cukup baik, untuk segera tamat dari SR tidak membutuhkan waktu yang lama. lulus dari SR sekitar tahun 1938. Setelah itu dilanjut ke madrasah, keluar pada tahun 1939. Setelah menamatkan sekolah formalnya, pada tahun 1939 Abuya Otong melanjutkan pendidikannya ke sebuah pondok pesantren di Rocek yang dipimpin oleh Syech Hasan Mushthofa selama tiga tahun. Setelah itu pada tahun 1941 beliau melanjutkan mondok di Kadu Cekek, Cipeucang di pondok pesantren Syech Syaubari Assujahi kemudian berguru juga pada puteranya, Syech Junaidi Assujahi. Dari Kadu Cekek ia melanjutkan ke Cikawung, berguru pada Syech Ahmad, dan yang terakhir, sebelum abuya benar-benar menetap di Ciandur adalah belajar di pondok pesantren yang diasuh oleh Syech Abdul Qodir di Gentur, Cianjur selama tiga tahun.
Selain itu, ketika menunaikan ibadah haji, Abuya Otong juga pernah belajar ke salah satu ulama Banten yang mukim di tanah suci, yaitu Abuya Damanhuri. Abuya Otong mengikuti pengajian yang diadakan oleh Abuya Daman setiap hari Jum’at. 

Kiprah Abuya Otong Nawawi
Pada saat berusia 23 tahun Abuya Otong menikah dengan Ibu Hj. Encuk, lalu menetap di Ciandur dan mulai merintis pendirian pondok pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Thoriqotul Huda al Hasanah. Nama yang dicetuskan oleh salah satu santrinya yang memiliki makna jalan untuk mendapatkan petunjuk (kebaikan). Sebagaimana diketahui bahwa, pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang berperan penting dalam mencetak generasi-generasi Islami. Sesuai dengan namanya, pondok pesantren yang didirikan oleh Abuya Otong ini mampu mencetak santri-santri yang bisa hidup dengan baik di lingkungan masyarakat, karena pola pendidikan yang dikedepankan oleh Abuya Otong selain ilmu keagamaan juga ilmu dalam bermuamalah.
Secara spesifik, dari segi keilmuan Abuya Otong tidak dikenal dengan keahliannya dalam bidang ilmu tertentu. Seperti beberapa ulama yang dikenal ahli dalam satu bidang ilmu seperti tafsir, fiqih, tarekat dan lain sebagainya. Sehingga pengajaran di pesantrenpun dikonsentrasikan dalam bidang ilmu tersebut. Berbeda dengan Abuya Otong yang lebih banyak mengedepankan praktik bagaimana tata cara hidup di masyarakat untuk para santri, dan bagaimana santri-santrinya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Membiasakan sholat berjama’ah, tidak meninggalkan sarung dan kopeah, bisa mencangkul, bisa ngaduk semen dan tentunya yang paling penting adalah berakhlakul karimah. Tidak akan diistiqomahkan santrinya jika terlihat masih belum punya kemampuan hidup di masyarakat, santri itu menurutnya tidak hanya bisa ngaji kitab, tapi juga harus bisa ngaji diri, agar punya bekal untuk hidup di masyarakat dan bisa berguna untuk masyarakat. Dengan pola pendidikan demikian, banyak santri-santrinya yang kemudian menjadi orang yang berhasil.
Sebagai seorang ayah, dalam mendidik anak-anaknya abuya selalu mengedepankan akhlak. Ketika memberi nasihat tidak hanya lewat ucapan tapi juga langsung ia praktikan dengan perbuatan. Seperti membiasakan sholat berjama’ah, mengaji, selalu berpakaian rapih dan sopan, dan lain sebagainya.
Selain mengajarkan agama pada para santri, abuya juga mengajarkan pada masyarakat sekitar dengan ceramah dari satu tempat ke tempat lain dan mengadakan kegiatan pengajian setiap hari kamis pagi untuk bapak-bapak dan setiap hari jum’at pagi untuk ibu-ibu di Masjid Thoriqotul Huda. Saat ini kegiatan pengajian tersebut masih berjalan dengan baik.
Selain aktif mengajar di pesantren, abuya juga pernah aktif di bidang politik, dengan bergabung dalam beberapa partai politik, di antaranya adalah PPP, GOLKAR dan PKB. Saat bergabung dengan golkar abuya sempat mendapatkan tentangan dari keluarga. Tapi, abuya punya alasan tersendiri kenapa bergabung dengan GOLKAR, diantaranya adalah pada saat itu dunia politik didominasi dan dimonopoli oleh GOLKAR, sehingga abuya berpikiran jika demikian bagaimana para ulama di PPP bisa berdakwah kalau semua aspek didominasi oleh GOLKAR, maka dari itu abuya bergabung dengan partai berlambang pohon beringin itu, selain itu alasan lain abuya bergabung dengan GOLKAR karena berdasarkan jawaban dari hasil shalat istikharahnya.
Abuya otong juga merupakan seorang ulama yang cukup produktif dengan banyak mengutip catatan-catatan penting dari kitab-kitab yang kemudian beliau tulis dalam sebuah buku untuk selanjutnya beliau ajarkan kembali pada para santrinya. Secara umum karya-karyanya yang dikenal orang memang tidak ada. Tapi, secara khusus abuya menulis sebuah buku yang berisi khutbah jum’at. khutbah jum’at tersebut dari dulu sampai sekarang masih selalu digunakan ketika khutbah jum’at di Masjid Thoriqotul Huda. Selain itu, abuya juga pernah menulis satu buku yang berjudul Targhibul Ikhwan, buku ini merupakan nadzom sunda yang berisi tentang rukun Islam, rukun iman, dan aqidah, biasanya nadzom ini sering dilantunkan di masjid ketika menjelang adzan maghrib. 

Hagiografi
Abuya Otong sudah diakui oleh beberapa ulama bahwa ia merupakan seseorang yang dimuliakan oleh Allah. do’a-do’anya mudah dikabulkan. Suatu ketika ada santri yang diperintahkan oleh abuya untuk pulang dan mendirikan pesantren di kampung halamannya padahal santri tersebut belum bisa ngaji. Tapi karena do’a dan ridho dari guru, santri tersebut memiliki santri yang banyak dan kehidupan yang baik. Kemudian, pernah suatu hari ketika hendak membangun pesantren, abuya banyak meminta pada Allah agar diberikan banyak rizqi. Keesokan harinya ada seorang lelaki berjubah putih datang pada Abuya Otong membawakan banyak uang.
Di samping mendirikan pesantren abuya juga membuka sebuah warung di depan rumahnya. Suatu hari ada seorang perempuan hendak membeli kecap sachet, tapi yang ada hanya kecap dalam botol. Entah mungkin perempuan tersebut merasa tidak dilayani dengan baik, maka dia mengadu pada suaminya yang merupakan seorang tentara. Singkat cerita datanglah tentara itu ke rumah abuya dan hendak menembak abuya dengan senapannya. Tapi ketika hendak menembak, pelurunya tidak keluar.
Abuya Otong wafat pada malam Selasa, 14 Romadhon 1423 H bertepatan dengan 19 November 2002 dalam usia 90 tahun. Abuya meninggal di Ciandur dan dimakamkan di Kp. Pasir Manggu, di kebun milik pribadi. Suatu ketika, sebelum wafat Abuya pergi kebun tersebut bersama istrinya, Ibu Hj. Encuk. Ia berpesan agar ketika wafat nanti dimakamkan di tempat tersebut. Setelah wafat dimakamkan disana berdampingan dengan makam istrinya yang telah lebih dulu wafat. Kepergian Abuya Otong meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga juga bagi masyarakat.

Sumber
Wawancara bersama Bapak H. A. A . Ciandur, Minggu, 08 November 2015
Wawancara bersama H. A. B, Ciandur, Minggu, 15 November 2015


[1] Karena kecintaannya pada ulama dan santri, seorang lurah dari Bulakan ingin sekali memiliki menantu seorang santri yang bisa mengaji yang diharapkan bisa membimbing putrinya. Maka dinikahkanlah Abuya Otong dengan putrinya Hj. Encuk Hasanah, dan apapun yang diinginkan oleh abuya akan dipenuhi oleh mertuanya. Pada saat menikah, abuya diberikan lampu pertomak dan sebuah sepeda oleh mertuanya, dua benda tersebut pada masa itu memiliki nilai yang cukup tinggi.
[2] Ibu Hj. Encuk Hasanah meninggal ketika Abuya Otong sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci. 


*Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Pusat Litbang Kementrian Agama dalam Ensiklopedia Ulama-Ulama Banten tahun 2016

Biografi Abuya Abdul Karim


Riwayat Abuya Abdul Karim
KH. TB. Abdul Karim adalah salah satu ulama Banten yang cukup terkenal di Kabupaten Pandeglang. Selain dikenal sebagai ulama yang aktif di bidang kajian dan pengembangan keislaman beliau juga dikenal sebagai tokoh yang cukup berpengaruh dalam bidang politik. KH. TB. Abdul Karim atau yang akrab disapa Abuya atau Mama, lahir pada tahun 1914 di Kampung Rocek (sekarang Desa Bojong Huni), Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Ayahnya bernama KH. TB. Ismail yang  berasal dari Kampung Leuwi Kondang, Desa Kadubumbang,  Cimanuk,  dan ibunya bernama Siti Sarah yang berasal dari Pasir Angin, Pandeglang.
Menurut beberapa informasi, dari garis ayah silsilah Abuya Abdul Karim sampai kepada Syech Syarif Hidayatullah, maka otomatis sampai pula kepada Rasulullah Saw. Sedangkan dari pihak ibu silsilahnya sampai kepada Sayyidina Hamzah, sahabat Nabi.
Abuya Abdul Karim terlahir dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya juga merupakan seorang ulama. Selama hidupnya Abuya Abdul Karim pernah menjalani pernikahan sebanyak tiga kali. pernikahan pertamanya dengan seorang perempuan bernama Siti pada tahun 1933, pernikahan yang pertama ini hanya bertahan selama satu tahun karena Abuya Abdul Karim masih memiliki keinginan besar untuk belajar ilmu agama. Pernikahan dengan istri yang pertama tidak dikarunia putra.
Kemudian pada tahun 1943, setelah menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren Abuya Abdul Karim menikahi seorang perempuan yang berasal dari Kp. Bengkung bernama Siti Tarwiyah atau yang dikenal dengan Ibu Iyot. Dalam pernikahannya yang kedua ini dikaruniai dua orang anak, Ratu Nawiroh dan Tb. Acep Saefulloh. sampai kemudian istri yang kedua ini meninggal dunia. 
Setelah itu pada tahun 1949 Abuya Abdul Karim menikahi seorang gadis yang berasal dari Kp. Pabrik bernama Ratu Julaeha binti Tb. Halimi. Pada saat itu Ibu Ratu Julaeha masih berusia 14 tahun. Dari pernikahannya dengan istri ketiga ini dikaruniai tujuh orang anak;
1.      Ratu Azzah
2.      Ratu Empin Arfiyah (alm)
3.      Ratu Ifah Afifah
4.      Tubagus Badren
5.      Tubagus AE. Neirendan
6.      Ratu Tuti Alawiyah
7.      Ratu ida (alm)
Kedua putranyalah yang saat ini meneruskan jejak langkah Abuya Abdul Karim dalam bidang pendidikan Islam yakni Tubagus Badren dan Tubagus AE. Neirendan.

Riwayat Pendidikan
Masa pendidikan Abuya Abdul Karim sebagian besar dilakukan di pondok pesantren. Saat usianya menginjak tujuh tahun beliau mondok di salah satu pondok pesantren di Rocek selama tiga tahun yakni dari tahun 1921 sampai tahun 1924. Kemudian dilanjut ke pondok pesantren di Plered selama lima tahun yakni dari tahun 1924 sampai tahun 1929. Kemudian di pondok pesantren di Ciluwer, Bogor selama empat tahun (1930-1934), pada saat mondok di Bogor di tahun yang ketiga beliau menikah. Namun, pernikahannya hanya bertahan selama satu tahan saja karena beliau masih ingin melanjutkan belajar di pondok pesantren. Setelah itu Abuya Abdul Karim melanjutkan ke  Gentur, Jambudipa di pondok pesantren KH. Ahmad Satibi selama delapan tahun (1934-1942), dan yang terakhir beliau mondok di Pondok pesantren  Abuya Abdul Halim di Kadu Peusing pada tahun 1942-1943.
Keilmuan Abuya Abdul Karim sudah diakui oleh masyarakat di sekitarnya. Abuya Abdul Karim ahli dalam berbagai bidang ilmu agama. Baik fiqih, hadis, tauhid, balagoh, mantiq dan lain sebagainya. Tapi abuya lebih dikenal dengan keahliannya dalam bidang ilmu tafsir. Selain itu, menurut salah satu santrinya Abuya Abdul Karim juga  menguasai ilmu falaq. Perhitungannya dalam  menentukan idul fitri atau idul adha didasarkan pada dua hal yaitu rukyah dan istikmal. Menurutnya jika terlihat bulan maka itu rukyah berarti tepatlah hari raya itu, sedangkan jika tidak terlihat bulan maka itu istikmal.
Abuya Abdul Karim dikabarkan bersahabat dekat dengan Buya HAMKA. Dahulu kedua karib ini satu sama lain saling mengunjungi untuk saling berbagi ilmu dan berbagi nasihat. Abuya Abdul Karim juga menjadi tempat bagi masyarakat untuk meminta nasihat.

Aktivitas-aktivitas Abuya Abdul Karim
Selama hidupnya Abuya Abdul Karim banyak mengabdikan diri untuk umat. Di antaranya adalah mendidik para santri di pesantren dan menjadi pengajar di beberapa majlis ta’lim di Pandeglang. Metode pengajaran yang abuya gunakan adalah metode ceramah sambil membacakan kitab.
Berikut ini beberapa aktivitas Abuya Abdul Karim dalam pendidikan Islam di Pandeglang:
1.      Mendirikan pondok pesantren pertama di Bengkung pada tahun 1948 pada saat menikah dengan istri kedua. Saat ini pondok pesantren tersebut pengajarannya dilanjutkan oleh keturunannya dari istri kedua.
2.      Menjadi pengurus di Mathla’ul Anwar Menes pada tahun 1957-1960, lebih tepatnya sebagai penasihat dalam majlis fatwa.
3.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim di Cihideung pada tahun 1961-1963
4.      Mendirikan lembaga pendidikan Madrasah Mathla’ul Huda di Kp. Pabrik sekaligus menjadi pengajarnya pada tahun 1962.
5.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim khusus para kyai setiap hari kamis pagi dan pengajian untuk umum setiap hari sabtu—yang sampai sekarang masih berlanjut, pada tahun 1962.
6.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim di Kadukacang, Kananga, dan Labuan pada tahun 1970-1980.
7.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim di Kadulisung dan di Cidangiang pada tahun 1980-1987.
8.      Mengajar pada pengajian majlis ta’lim di Nyimas Ropoh pada tahun 1989-1996.

Selain aktif dalam bidang kajian dan pengembangan Islam, abuya juga aktif dalam melakukan perlawanan terhadap para penjajah ketika Agresi Militer Belanda yang kedua bersama rekan-rekannya, salah satunya bersama Ghozali. Pada saat itu, abuya berperan sebagai ketua dalam MII (Majelis Ishlah Indonesia) yang merupakan salah satu organisasi yang mendukung tentara sabilillah dalam rangka perlawanan melawan agresi militer Belanda sekitar tahun 1949 bersama KH. Abdul Halim.
Banten merupakan salah satu daerah yang penduduknya hampir seluruhnya beragama Islam. Sehingga pengaruh kyai dan ulama sangat besar sekali. Revolusi di Banten sebagian besar dipimpin oleh para kyai dan ulama. Sehingga jabatan dalam pemerintahan dari tingkat lurah sampai tingkat bupati dipangku oleh para kyai dan ulama. Abuya Abdul Karim dalam rangka mendukung pemerintahan pasca kemerdekaan diangkat menjadi lurah Desa Kupahandap-Pandeglang oleh Residen Banten KH. Ahmad Khotib sekitar tahun 1946-1949.
Aktivitas Abuya Abdul Karim sangat aktif mendukung Masyumi, di mana ia menjabat sebagai penasehat yang menghantarkan ia menjadi anggota konstituante sekitar tahun 1964. Bersama rekan-rekannya di Pandeglang yang tergabung di Masyumi dan yang bukan Masyumi mereka menentang NASAKOM sampai terjadinya peristiwa G30SPKI. Kemudian pada masa Orde Baru setelah Mayumi bubar Abuya Abdul Karim bergabung dengan PARMUSI sebagai penasehat hingga pusinya partai-partai Islam di Indonesia.

Keistimewaan Abuya Abdul Karim
Abuya Abdul Karim adalah sosok ulama yang sederhana, tawadhu, qonaah, dan moderat, tidak memihak pada golongan atau komunitas tertentu sekalipun berbeda pandangan satu sama lain. Ia juga dikenal sebagai ulama yang selalu mengedepankan akhlakul karimah dan sangat bijak menghadapi semua problematika yang ada di masayarakat. Terutama terkait dengan perbedaan-perbedaan paham yang berkembang di baik di tengah  masyrakat maupun di tengah kalangan ulama sejawat. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika ia disebut sebagai ulama moderat pemersatu umat.  
Pada tahu  1992 abuya pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci bersama istrinya. Ada satu cerita ketika hendak berangkat wukuf di Arafah, semua rombongan termasuk ketua rombongan sibuk mencari abuya yang tiba-tiba menghilang. mencari di maktab abuya tidak ditemukan. Sampai akhirnya abuya ditemukan sedang duduk di Arafah, kondisi saat itu abuya sudah menggunakan kursi roda. Ketika ditanyakan abuya mengatakan bahwa dia tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa langsung ada di Arafah, sebelumnya ia melihat ada sosok hitam tinggi yang mengangkatnya dan mengantarkannya ke Arafah. Subhanallah.
Pernah pula suatu ketika beberapa tahun setelah abuya wafat ada salah seorang yang datang ke rumah abuya dan mengaku sebagai santrinya,  santri tersebut bercerita bahwa ketika ia menunaikan ibadah haji ia bertemu dengan abuya yang kemudia menyuruhnya untuk bersilaturahim ke rumahnya di Pandeglang seraya memberikan alamat lengkapnya. Padahal pada waktu itu abuya sudah wafat. Mungkin abuya mengingatkan pada santri tersebut untuk tidak memutus silaturahim.
Abuya Abdul Karim wafat pada hari Jum’at tanggal 29 Ramadhan 1417 H bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1997 dalam usia 83 tahun dan dimakamkan di depan rumahnya yang kini di areal tersebut dibangun sebuah mushola. Sampai saat ini makam abuya banyak diziarahi oleh orang-orang.
Kepergian abuya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga juga bagi umat yang merasa bahwa abuya adalah sosok ulama yang memiliki kepribadian yang luar biasa. Banyak nasihat abuya yang sampai saat ini masih teringat, di antaranya adalah; Bergaulah dengan siapapun, ambil manfaat dan yang baik-baiknya saja. Carilah ilmu dimanapun pada siapapun. Kalau berbicara harus memperhatikan perasaan orang lain. Dan Ilmu tidak akan manfaat jika tidak disertai dengan akhlak dan sopan santun.

Sumber
1.      Biografi KH. TB. Abdul Karim dalam rangka peringatan haul yang kelima
2.      Wawancara dengan Hj. Ratu Julaeha, Dalem Balar-Pandeglang, 16 Oktober 2015
3.      Wawancara dengan KH. Uyung, Kadu Kaweng-Pandeglang, 17 Oktober
4.      Wawancara dengan Ust, Badren, Dalem Balar-Pandeglang, 17 Oktober 2015


Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Pusat Litbang Kementrian Agama tahun dalam Ensiklopedia Ulama-Ulama Banten tahun 2016

Senin, 22 Oktober 2018

Menyongsong Museum Milenial


Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar nama “museum”? Sepi, jenuh, kuno, fosil, dan masa lalu?  Ya, itulah kesan yang selalu disematkan pada museum. Namun, saat ini kesan seperti itu rasanya sudah tak lagi pantas untuk disematkan pada museum.  Karena museum masa kini sudah mulai berbenah untuk menyongsong museum milenial. Museum yang tak hanya  milik generasi masa lalu, tapi juga milik generasi masa kini dan generasi di masa mendatang. Milenial atau yang  dikenal dengan generasi Y, menurut Wikipedia adalah kelompok demografi setelah generasi X. Generasi ini lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000. Lalu, kenapa saat ini ramai sekali orang memperbincangkan tentang generasi milenial? apa hubungannya generasi milenial dengan museum?

Setiap tanggal 12 Oktober diperingati sebagai Hari Museum Indonesia. Hari Museum Indonesia pada tahun 2018 ini mengusung tema “Museum Kebanggaan Milenial”. Dengan tema yang kekinian ini para pengelola museum mencoba mendekatkan diri pada generasi milenial  atau generasi muda masa kini yang akrab dengan kemajuan teknologi dan informasi. Karena generasi milenial ini bisa menjadi salah satu target utama museum untuk menyongsong museum yang bisa menjadi kebanggaan masyarakat. 

Museum menurut Intenasional Council of Museum (ICOM) disebut sebagai sebuah lembaga nirlaba yang bersifat permanen yang melayani masyarakat, terbuka untuk umum, bertugas untuk mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan warisan sejarah kemanusiaan yang berwujud benda dan tak benda beserta lingkungannya untuk tujuan pendidikan, penelitiaan, dan rekreasi. 

 Berperan sebagai sarana edukasi dan rekreasi bagi masyarakat, museum dituntut untuk terus berbenah untuk mewujudkan museum yang kekinian dan museum yang menarik bagi setiap generasi, terutama generasi milenial yang bisa menjadi potential market dalam berbagai sektor. Generasi milenial ini memiliki minat untuk melakukan eksplorasi dan travelling, cerdas, memiliki jaringan, dan juga aktif menggunakan media sosial. Oleh karena itu, ketertarikan generasi milenial terhadap museum bisa menjadi peluang besar untuk perkembangan museum. Dalam hal ini, pengelola museum harus mampu beradaptasi dengan situasi terkini, terlebih di era keterbukaan informasi dan teknologi digital mapun media sosial, sehingga dapat menarik minat generasi milenial untuk berkunjung ke museum. 

Sering munculnya anggapan mengenai museum sebagai tempat yang menjenuhkan,  sepi dan sebagainya juga menjadi tantangan bagi pengelola museum bagaimana menjadikan museum sebagai tempat yang menyenangkan untuk semua kalangan, baik untuk orang tua, pelajar, maupun anak-anak. Untuk menjawab semua tantangan tersebut, Museum Negeri Provinsi Banten (Museum Banten) sebagai museum kebanggaan masyarakat Banten saat ini terus berupaya untuk melakukan gebrakan-gebrakan baru yang inovatif dan kekinian. Dengan mengedepankan konsep museum digital—dengan tidak meninggalkan esensinya sebagai tempat menyimpan koleksi yang memiliki nilai sejarah—Museum Banten memiliki harapan bahwa peran museum sebagai sarana edukasi dan rekreasi bagi masyarakat bisa terwujud. Masyarakat tertarik untuk berkunjung ke museum, pengetahuan bertambah, memperoleh hiburan, dan tentu saja bisa berbagi hasil jepretan kamera di jejaring sosial dengan latar Museum Banten. 

Upaya yang dilakukan Museum Banten untuk mewujudkan museum yang bisa menjadi kebanggan milenial adalah dengan menampilkan museum yang bisa diterima oleh banyak kalangan, khususnya adalah oleh kalangan generasi milenial. Di antaranya adalah dengan menyajikan informasi seputar koleksi dalam bentuk media digital yang menarik berupa hologram interaktif dan virtual reality. Selain itu, ada banyak koleksi yang ditampilkan di Museum Banten yang mewakili setiap kota dan kabupaten yang ada di Provinsi Banten. Tak hanya itu, Museum Banten juga memiliki ruang pamer yang informatif yang tentunya didukung dengan teknologi multimedia yang menarik, seperti Ruang Siapa Orang Banten, Ruang Religi, dan Kids Corner yang masih dalam proses pembuatan. Selain itu ditampilkan juga Pameran Tematik atau Temporer seperti Pameran Aku dan Kenangan, Banten Negeri Maritim (on proses), dan Kriya Baduy. Apa yang dipamerkan di Museum Banten tak hanya bisa menambah pengetahuan dan menghibur pengunjung, tapi juga memiliki satu nilai plus yang selalu menjadi incaran kaum milenial, yaitu memiliki spot untuk berfoto yang instagramable. Inilah cita-cita yang sesungguhnya, menyongsong museum milenial. 

Dalam rangka memeriahkan Hari Museum Indonesia tahun 2018, Museum Banten menyelenggarakan acara yang menarik, yaitu senam bersama, tour the museum, dialog interaktif, launching film dokumenter dan doorprize. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sekali lagi, upaya ini dilakukan oleh Museum Banten untuk mewujudkan museum masa depan, museum yang menjadi kebanggaan milenial. Dengan tag line “Ke Museum Yuk!” seluruh museum di Indonesia mengajak masyarakat khususnya generasi milenial untuk mencintai museum, saat ini dan nanti.  

Sejatinya, bernostalgia, menembus ruang dan waktu, dan mengingat setiap hal baik yang terjadi di masa lalu adalah hal yang menarik.
Salam Museum
Salam Membumi dari Ujung Barat Pulau Jawa.
Museum di hatiku
Museum di hati kita.

Artikel ini pernah diterbitkan di Kabar Banten pada Tanggal 15 Oktober 2018.